Wednesday, November 12, 2014

Membosakan ....

Aku nggak pernah tau bagaimana aku bisa melewati 27 tahun kehidupan tanpa mempunyai mimpi sama sekali.

Tanpa mempunyai tujuan hidup yang benar-benar pingin aku kejar dan perjuangkan.

Iri rasanya melihat mereka yang bisa dengan mudah menemukan mimpi mereka, passion dan keinginan mereka untuk masa depan

Kalau ditanya apa mauku ? aku juga sebenarnya bingung

Aku hanya gak mau menjadi orang yang membosankan, yang hidup dengan memenuhi aturan kehidupan yang itu-itu saja

Aku pingin melakukan hal yang membuat aku senang dan tidak membebaniku ....

Rasanya tulisan diatas membosankan ya

Well, tenyata saya sudah menjadi orang yang membosankan, ironis sekali dengan keinginan saya ....
»»  LANJUT LAGI...

Monday, October 13, 2014

SALAH


“Hai …”
Dia menoleh dan seperti biasa akan selalu bertampang konyol saat melihatku, pikir Lyla.
“Baru sampai?” tanyanya tanpa rasa bersalah
“Yeah, baru lima menit lalu” padahal Lyla sempat memandangi lukisannya hampir setengah jam, tapi ia tak ingin membuat Rio merasa bersalah atau tidak seharusny merasa bersalah.
Rio kembali asyik dengan lukisannya sedangkan Lyla mengitari studio berukuran 4x4m itu, kecil namun tertata rapi.
“Bagaimana kabar Riri?”, akhirnya ia bertanya juga, pikir Lyla
“Apa kau masih ingat Riri? Aku pikir dia sudah menjadi salah satu model yang tidak kau perlukan lagi”.
Rio tersenyum kecil, walau ia membelakangku tapi aku tau ia sedang tersenyum dan mengaggap lucu sesuatu, entah apa itu karena bagi Rio semuanya lucu.
“Jangan sinis, aku kira semua maslahnya sudah selesai, karena tak ada lagi hubungan antara aku dan riri, pekerjannya sebagai model telah selesai kan?”
Ya, ‘tapi pekerjaannya’ denganmu belum tuntas, bisik Lyla dalam hati. Apa sebegitu dinginnya ia sampai tidak tau bahwa saat ini Riri sedang terluka?
“Riri sahabatku, Rio” suara Lyla mulai bergatar
“Lalu?” Rio sama sekali tidak berbalik bahkan ringan sekali suaranya seperti sedang mendengarkan lelucon
“Kamu sudah menyakitinya yang berarti menyakitiku juga”Lyla masih menahan emosinya
“Hmm….sweet friendship”
Lyla menyipitkan matanya, ia tak percaya bahwa sosok didepannya mampu berkata seperti itu saat ia sedang berusaha membela sahabatnya. Dari dulu ia paham bahwa Rio bukanlah orang yang begitu mempercayai sebuah hubungan, tapi baginya Rio sudah keterlaluan, ia merasa diremehkan apalgi diatas segala perasaannya selama ini.
“Kalau gitu kenapa dulu kamu memberinya harapan?”
Pertanyaan itu berhasil membuat Rio menoleh, lurus ia menatap Lyla
“Siapa yang memberinya harapan? Aku hanya berbuat baik padanya, makan siang bareng, mengantarnya pulang atau mejenguknya saat sakit,itu semua hanya atas nama kebaikan, gak lebih. Dan kalau ia mengartikan lain, maaf itu bukan tanggung jawabkukan?”
Lyla merasa tubuhnya bergetar hebat, harusnya ia tak kaget mendengar kata-kata Rio, bukankah dari SMA ia sudah tau seperti apa sifat Rio? Rio yang begitu cuek, bicara seenaknya, melakukan apapun semaunya, tak peduli pendapat orang dan tak pernah menjalin hubungan apapun, bahkan sekedar hubungan pertemanan. Hubungannya dengan Riopun hanya sekedar say hello dan hanya karena rumah mereka berdekatan, itu juga lebih sering Lyla yang yang menyapa duluan.
Tapi saat ini Lyla benar-benar tak menyangka kata-kata dingin itu bisa kelur dari mulutnya.
“Apa kamu benar-benar sebrengsek itu?” desis Lyla
“Jadi kamu mau aku bagaimana? Berpura-pura menyukainya dan pacaran dengannya begitu? Ayolah Ly, kamu pasti tau sifatku seperti apa. Aku gak akan pernah bisa menjalin hubungan seperti itu …”
“Ya, tapi bukan berarti kamu menyakiti Riri kan?” suara Lyla mulai meninggi, ia sudah tak mampu menahan perasaannya, entah karena Riri yang tersakiti atau dirinya yang mendengar kata-kata itu. Kegalauannya selama ini makin memuncak,kesedihan sahabatnya dan perasaan bersalah itu, semuanya menjadi beban baginya.
Rio meletakkan kuasnya dan berdiri menghadap Lyla, ada kesal tersirat di wajahnya
“Ok, ok aku bersalah dan aku minta maaf, cukup?”
Lama mereka terdiam, Lyla masih berusaha menahan amarahnya sedangkan Rio hanya menatap Lyla seperti hendak menyampaikan sesuatu.
“Mungkin seharusnya aku gak mempertemukanmu dengan Riri,” kata Lyla pelan
Rio tersenyum, sinis, apa hanya Riri yang ada di otakmu La? Sekelebat pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benak Rio.
Setelah itu Lyla melangkah pergi dari studio yang dirasanya semakin sempit, tidak lagi seperti dulu saat ia menyimpan rasa itu, saat dimana hari-harinya hanya berputar pada studio lukis dan … Rio.
“Aku suka Rio, La” itu kata-kata Riri yang pernah membuatnya bimbang.
 Berawal dari Lyla yang menawarkan Riri untuk menjadi model lukis Rio, ia tak menyangka bahwa kecuekan Rio mampu menarik rasa sahabatnya. Saat itu ia sudah sangat mengenal Rio yang tak pernah terarik untuk menjalin hubungan apapun tapi ia tak mampu untuk berkata pada Riri, toh ia rasa Riri pun tak akan mendengarkan kata-katanya. Selain itu ia tak ingin merasa munafik pada dirinya sendiri, karena ia mengakui bukan hanya karena tau sifat Rio yang seperti itu ia memperingatkan Riri tapi karena ia juga suka pada Rio. Ia tak ingin menghakimi dirinya sebagai orang yang berusaha menghalangi kebahagiaan sahabatnya.
 Namun sekarang ia merasa benar-benar bersalah, andai ia mengatakan dari dulu pada Riri, mungkin sahabatnya itu tak akan terluka atas penolakan Rio ditambah lagi entah dariman tiba-tiba muncul persaan lega mengetahui Rio sama sekali tak memiliki perasaan apapun pada Riri, Lyla merasa ia telah begitu jahat.
Lyla berlari mencoba menghilangkan semua perasaan itu hingga tubuhnya tak terlihat lagi oleh sepasang mata yang dari tadi memperhatikannya, Rio.
Cowok itu menghela nafas, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya karena ia tak pernah sama sekali mempunya masalah yang begitu berat. Karena itu ia tidak pernah menjalin hubungan dengan sipapun dengan akrab, namun kali ini berbeda, menyangkut hatinya yang tiba-tiba tidak mau diatur.
Lyla, cewek yang menurutnya begitu ribut mampu membuat pendiriannya goyah, perlahan ia mulai belajar berhubungan dengan orang lain, membiarkan Lyla mengaca-acak studionya yang bahkan orangtuanya pun tidak ia perbolehkan masuk. Sampai akhirnya ia sadar bahwa ia menyukai Lyla, hal yang selama ini ditakutkannya akan terjadi, namun semuanya telah terlanjur dan ia menikmatinya.
Ia pun tau Lyla juga menyukainya, bukan GR hanya saja ia bisa merasakannya dan inilah kebodohannya, ia tak mampu mengungkapkan perasannya tapi malah menunggu Lyla untuk maju lebih dulu.
Benar-benar bodoh, ia dan Lyla seperti bermain tebak-tebakkan perasaan masing-masing sampai akhirnya mucullah Riri yang dengan terang-terangan mengaku suka padanya. Dan Lyla, walaupun ekspresinya terlihat aneh namun ia masih bisa tersenyum seolah-olah tidak tau perasaan Rio atau mungkin ia memang tidak tau? Atau lagi-lagi ia menyembunyikan perasaanya diantara tumpukan kata sahabat?

Ahhh … Rio menghempaskan badannya ke sofa, entah ia harus apa menghadapi situasi seperti ini, yang ia rasakan sampai saat ini hanyalah perasaan sukanya pada Lyla, apa itu salah? Mungkin saja, atau mungkin kesalahan ini karna Lyla yang tak mengungkapkan perasaan padanya? Bisa jadi, atau mungkin kemunculan Riri yang dirasanya tidak tepat. Atau …atau mungkin semuanya memang telah salah dari awal mereka bertemu.
»»  LANJUT LAGI...

losing idea ....

Ketika ide itu sulit ditemukan

Ketika apa yang ada dipikiran ini seperti es yang membatu

Ketika mata juga tak mampu terpejam

Dan kecurigaan bahwa harus ada yang ditulis

Harus ada yang dikeluarkan

Dari ruang uneg-uneg yang enggan untuk mengalir begitu saja

Harus dipaksa

Didorong

Ditarik

Sampai lelah sendiri

Sampai kehabisan energi

Sampai kantuk itu menjemput


Membuai lelah ini pada mimpi yang terlupakan …..
»»  LANJUT LAGI...

Monday, October 6, 2014

Gamang ....

Sekuat apa sandaranmu ?

Semampu apa ia akan memapahmu ?

Kalau dia hanya yang terbuat dari tulang lemah terbungkus kulit tipis

Kalau kuasanya hanya seinci angan semu


Bilakah ia mampu menahan gelombang tangismu ?

Mungkinkah ia sanggup menghapus gelisahmu ?


Sebentuk apa sandaranmu, ya makhluk ?

Hingga begitu penuh percaya kau serah seluruh jiwa raga

Dan selama apa, ia akan mampu menopangmu, ketika masa sudah sampai pada tujuannya, ketika angin sudah berhenti pada tariannya.


»»  LANJUT LAGI...

Saturday, August 30, 2014

Forgive Me, Please ....

ya, saya bodoh

ketika saya memutuskan untuk menjalani kisah itu, dengan alibi hanya mencoba, ingin merasakan, ingin mencari pengalaman .....

HAHAHAHAHA !!!

dengar, sisi logis saya sedang mengejek kebodohan saya

apa yang kamu dapatkan ??!!! tanyanya keras

saya hanya menunduk, lunglai, malu, perlahan bertransformasi menjadi makhluk kerdil yang mengalami penyempitan otak  (kiasan apa itu ??) dan menjadi idiot

kemana pikiran logis saya waktu itu ??

ishhh, ternyata dengan bodohnya malah saya singkirkan, saya timbun dengan bayang-bayang kesenangan, saya sesakkan ke ujung ruang pikiran saya, membiarkan ia terbata memanggil, meneriakan kata makian untuk menyadarkan kesalahan yang sedang saya perbuat

memang, pada akhirnya saya dapatkan pengalaman itu, dan tidak pernah menyesal untuk mengalaminya, yang saya sesalkan adalah bahwa saya begitu mudahnya untuk jatuh, berpikir diri ini mampu dan kuat, padahal dibalik keangkuhan saya, ternyata dinding kelemahan itu masih menjulang, dan ketika sebuah uluran tangan, yang saya pikir akan memberikan bantuan, dengan mudahnya saya menerima, dan menari-nari diantara bayang-bayang kesenangan yang saya ciptakn sendiri,

padahal, uluran  tangan itu yang malah membuat luka

luka karena rasa malu, luka karena rasa bersalah, luka karena telah merendahkan diri saya sendiri karena pernah terlintas dalam angan untuk menitipkan mimpi-mimpi saya pada tangan itu ...

padahal saya pun tau, itu hanyalah sebentuk uluran tangan dari seorang manusia, yang sama lemahnya dengan saya, yang juga mempunyai khilaf tak terhitung bilangan, tapi saya malah hampir menyerahkan mimpi saya pada uluran dhaif itu ...

saya tidak menyesal, tapi saya malu, sungguh ....
ternyata mata saya masih silau, telinga saya masih samar, apalagi hati ini, kerak tak terhingga ....














»»  LANJUT LAGI...

Tears Dye

Coba menangis sekali lagi
aku ingin melihat tetesannya yang menydihkan

pernahkah kau mendengar rintihan air mata itu ?
pernahkan kau coba merasakan derai jatuhnya ?

tidakkah ingin kau hapus
kau bunuh
kau lenyapkan

karena untuk apa air mata itu
jika untuk menangisi kisah yang begitu suram
yang waktupun tak ingin berdiam mendengarnya ....
»»  LANJUT LAGI...