Friday, August 28, 2015

Apa Passionmu ??



Yang namanya kerja itu ya memang capek.

Iya, pasti capek. Tapi beda kalau pekerjaan yang dilakukan itu adalah hal yang kita sukai, secapek apapun rasanya gak akan jadi masalah kan ?

Hal itu baru aku alami sendiri. Setelah beberapa tahun bekerja dalam bidang yang “normal” sekarang aku mulai merintis pekerjaan yang sesuai dengan hobiku yaitu menulis. Pekerjaan “normal” itu maksudnya gimana ? Ya aku pernah jadi costumer service di studio foto, pernah juga jadi penjaga warnet, terus jadi front office di tempat kursus dan terakhir jadi kasir resto yang bertahan cuma dalam 6 hari, hahahaha. Pekerjaan normal maksudku pekerjaan yang aku lakukan karena untuk mendapat uang dan supaya gak dilihat sebagai pengangguran, itu aja. Tapi jujur selama melakukan pekerjaan –pekerjaan itu sering aku merasa bosan dan bertanya sendiri kira-kira pekerjaan apa yang cocok untuk aku ?

Aku punya hobi membaca, terutama bacaan fiksi, dan dari hobi itu aku selalu kepingin buat jadi penulis dan meciptakan karyaku sendiri. Jadi seringlah aku berlatih menulis walau akhirnya geli sendiri kalau membaca hasil karyaku. Banyak memang tulisan yang udah aku buat tapi ya itu aku masih suka untuk menyimpannya sendiri dan jadi arsip yang kadang aku baca-baca kalau lagi bosan dan gak ada kerjaan.

Nah, jadi karena keinginan untuk menulis itulah aku menganggap bahwa aku juga punya hobi menulis dan pingin jika suatu saat hobi ini bisa menjadi sebuah ladang duit buatku. Tap kadang aku sering berpikir menulis memang sudah menjadi hobiku atau karena aku merasa gak punya kemampuan lain untuk mencari duit ? Iya, aku masih sering minder dengan hobiku ini. aku gak yakin apa aku bisa jadi penulis hebat seperti impianku atau aku hanya akan kembali menggeluti pekerjaan yang terasa membosankan pada satu titiknya nanti. Capek juga kalau harus berganti pekerjaan karena sudah merasa tidak bisa profesioanl karena kebosanan, dan lebih seringnya aku merasa kalau selama ini aku hidup untuk bekerja, bukannya bekerja untuk hidup, jadinya aku sering merasa lelah tanpa mendapat hasil apapun kecuali duit.

Akhirnya ketika masa nganggur kemarin aku ada lihat lowongan sebagai penulis freelance online di twitter, tanpa ragu aku langsung apply lamaran kesitu. Beberapa hari kemudian aku dapat sms pemberitahuan untuk tes secara online, wihhh, deg-deg an juga karena baru kali ini melakukan tes online dan gugup banget karena pekerjaan ini sangat aku harapkan walaupun fee yang dihasilkan tidak seberapa. Tesnya sendiri lumayan susah menurutku karena aku terbiasa menulis sebuah fiksi dengan imajinasi yang bebas sedangkan dalam tes aku dituntut untuk membuat sebuah review. Nggak pernah nulis review, dikasih batasan-batasan dalam penulisannya, waktu yang mepet serta jaringan yang nauzdubillah membuat aku sempet putus asa. Tulisanku tidak selesai, walaupun mau ngirim hasil tulisan yang setengah itu juga gak bisa karena jaringan kacau. Sempet frustasi dan sedih karena kesempatan untuk bekerja sesuai dengan hobiku menguap sudah. Tapi aku kemudian nekat, aku tetap menyelesaikan tulisan itu dan mengirimnya ketika tengah malam, karena cuma pas tengah malam jaringan internetku bisa lancar :v

Begitulah, aku pasrah sih kalau gagal secara telat ngirim hasil tesnya, dan kemudian aku melanjutkan hari-hariku dengan training super berat sebagai kasir restoran. Ditengah-tengah rasa frustasi sebagai kasir resto tiba-tiba aku mendapat sms yang menyatakan kalau aku lolos tes sebagai penulis online dan sudah bisa mulai bekerja. Ya allaaahhh !!! itu aku seneng banget, gak bisa digambarkan perasaaan senang plus leganya deh. Seneng karena akhirnya aku mendapat pekerjaan impianku dan lega bisa terlepas dari pekerjaan kasir yang memusingkan itu. Walau sampai sekarang aku masih bertanya juga kok bisa aku lolos ? Kan telat ngirimin hasil tesnya ? tapi aku gak pernah nanyain itu ke HRDnya sih, mungkin mereka punya pertimbangan lain untuk menerima aku atau aku hanya jadi cadagan karena ada ada peserta yang lolos tapi tiba-tiba mnegundurkan diri ? Entahlah, yang jelas aku sekarang bisa mendapat pekerjaan itu dan aku akan membuktikan kalau aku mampu !!!

Mungkin memang menulis adalah hobiku. Mungkin menulis adalah passionku. Sudah seminggu aku menjalani pekerjaan sebagai penulis freelance ini dan memang setiap pekerjaan pasti ada hal-hal sulit yang dihadapi, tapi ya itu tadi ketika pekerjaan itu adalah hobi kita rasanya hal tersulit apapun bisa dilewati dengan enjoy. Rasa capek jelas ada tapi tidak ada persaan mengeluh tuh. Aku menganggap semua ini jadi latihan dan pengalam buat aku. Aku gak tau sampai berapa lama akan bekerja sebagai penulis freelance tapi yang jelas aku cuma mau nikmatin saat-saat ini. Saat dimana apa yang aku kerjakan adalah hal yang aku sukai, hal yang mungkin kelak menjadi impian yang terkabulkan, sekaligus hal yang juga bisa memberikan rezeki tersendiri untuk diriku.

Aku selau berpikir bahwa orang yang bahagia adalah orang tau apa passion dalam hidupnya dan mampu untuk melaksanakn passion itu. jadi apakah aku sudah menemukan passionku dengan benar ? Apa aku sudah termasuk orang yang bahagia ?


I don’t know. Let we see, I just wanna enjoy what I get now, Alhamdulillah …. J
»»  LANJUT LAGI...

Sunday, August 2, 2015

For a soulmate


Semoga jodohku kelak adalah seseorang yang baik agamanya, bagus akhlaknya, berkah rejekinya, lembut sikapnya, dan besar kasih sayangnya.

Ia bahagia mendapatkanku dan akupun bahagia mendapatkannya.

Ia tenang bersamaku dan akupun damai mendampinginya.

Beribadah berdua dengannya sempurnakan ketaatan.
Menjemput ridha-Nya dalam syahdu kehalalan.

Sebelum saat itu tiba, aku akan menunggu dalam kesendirian.
Hingga ia datang menjemputku dengan cara yg baik tanpa pacaran.

Semoga nanti, kami dipertemukan dalam sebaik-baik pertemuan. Dan disatukan dalam sehalal ikatan. .


From instagram Teladan.Rasul
»»  LANJUT LAGI...

[NOTE] Rasa Syukur


Apa yang kita punya saat ini memang harus kita syukuri. Apapun bentuknya itu.

Aku baru sadar bahwa yang terpenting itu memang rasa syukur ya, karena mau seperti apa aja keadaan kita kalau rasa syukur sudah ada di hati pasti semuanya terasa enak-enak aja. Eh, saya bukan ngomongin soal makanan tapi keseharian yang kita jalani itu akan terasa enak, tenang, dan nyaman gitu kalau sudah bisa legowo menerima apa yang kita punya. Karena gak ada gelisah, gak ada perasaan kurang ataupun galau meski yang kita punya itu tidak sebagus atau sebanyak orang lain. Seperti kata pepatah bahwa rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri, tapi kita juga harus liat tetangga yang lain lagi, yang ternyata malah gak punya halaman berumput sama sekali, masih beruntung kita mah :D.

Sama seperti saat ini ketika aku lagi dalam masa pengangguran. Memang sih kadang masih muncul perasaan khawatir atau takut karena gak pegang banyak uang tapi alhamdulillah ada aja rezeki yang tetap bisa membuat aku nikmatin hari-hariku. Bukan berarti jadi males kerja atau ntar gak akan kerja lagi, sampai sekarang juga aku masih usaha untuk cari kerjaan baru tapi memang masih belum ada rezeki kerjaan baru, jadi untuk sementara ya nikmatin aja masa istirahat ini.

Positif thinking, itu yang lagi aku pelajarin saat ini. Kalau sekedar teori itu gampang tapi prakteknya toh masih sering ngeluh dan berpikiran buruk kalau ada kejadian yang gak mengenakkan. Tapi sekali bisa menerapkan hal itu rasanya masalah yang didepan mata itu lebih lapang untuk dilalui. Bukan maksudnya menggampangkan, tapi dengan positif thiking jadi bisa berpikiran lebih terbuka, lebih banyak jalan keluar yang tiba-tiba menginspirasi di otak ini, jadinya selalu punya harapan untuk menyelesaikan setiap masalah bukan hanya sekedar ngeluh atau ujung-ujungnya putus asa.

Rasa syukur ada dari sebuah pikiran yang positif, well, itu kesimpulan yang bisa kuambil dari pengalaman hidupku saat ini. Menganggur membuat aku bisa kembali menekuni lagi hobi menulis yang pinginnya sih kelak bisa jadi passion dan rezeki aku di masa depan. Menganggur juga membuat aku bisa melakukan hal-hal yang dulu tidak sempat kulakukan karena sibuk dengan pekerjaanku. Dan menganggur juga membuat aku kembali merasakan rindu pada aktivitas pekerjaan sekaligus mengembalikan semangat buat cari duit lagi.


Perasaan takut karena belum dapat pekerjaan sering kali masih muncul tapi kembali aku coba hilangkan dengan berpikir bahwa Allah swt masih memberikan aku waktu untuk istirahat seblum nanti mungkin akan ada pekerjaan baru yang menguras tenagaku. Percaya aja bahwa rezeki tidak akan tertukar dan akan datang pada waktu yang tepat kok. Kembali lagi dengan usaha positif thinking yang masih terus aku praktekin karena kalau tidak pasti aku akan jadi senewen sendiri di masa-masa nge-gembel ini.
»»  LANJUT LAGI...

Saturday, July 25, 2015

[Cerpen] Pandangan Luka


Di ujung jalan itu, jauh matanya menjatuhkan pandangan. Dengan menerawang. Entah apa yang dipikirkan atau dibayangkannya, yang jelas bukan tentang trotoar yang dipenuhi pejalan kaki yang bersliweran disana. Pikirannya jelas jauh ke tempat lain, atau mungkin masa yang lain.
“Kau tau siapa gadis itu ?”
Andre menepuk pundakku, sambil kemudian duduk dihadapanku, sedikit menghalangi penglihatanku pada gadis itu.
“Tidak, kau tau ?” tanyaku balik
“Entahlah, gadis itu hanya pengunjung tetap, diwaktu dan tempat yang itu-itu saja, bahkan ia pun memesan makanan yang setiap hari”
Penjelasan Andre mengalihkan perhatianku, ganti menatap wajahnya  dengan rasa ingin tahu.
“Serius ? sudah berapa kali dia kemari ?”
“Mmmm, sudah sejak 2 minggu yang lalu, dan sejak itu dia tidak pernah absen untuk mengunjungi kafe ini “
Andre menyeruput kopinya, wajahnya kelihatan segar ketimbang setelah bermain futsal tadi.
“Lalu kira-kira berapa lama dia berdiam diri seperti itu ?”
“Satu jam, dan artinya kamu hanya punya waktu 15 menit lagi untuk menikmati wajah manis itu”
Kalimat terakhir Andre jelas membuatku mengernyitkan kening,
“Hei, jangan melihatku seperti itu, kamu sudah putus dari nia, jadi tidak masalah kalau melirik wanita lain kan ?” katanya dengan gelak kecil
“Aku bukan tipe playboy seperti kamu, Ndre” dengusku
“Loh, tapi dia memang manis kan ?”
Oke, aku akui wanita ini memang mempunyai wajah yang enak untuk dipandang, selain kesenduan dimatanya, semua yang tergambar diwajahnya adalah manis untuk dilihat.
Kemudian wanita itu beranjak, tepat dimenit seperti yang diperkirakan Andre. Ia berjalan dengan wajah yang tertunduk,  rambut panjangnyanya tergerai sebagian menutupi wajahnya. Dan ketika wanita itu melintas di depan kaca Café, tepat ditempat aku duduk , aku tidak mampu melihat ekspresi wanita itu, ia berjalan begitu cepat.


Hari itu aku kembali ke café lagi. Di jam yang lebih awal dari kemarin, karena kalau wanita itu berdiam diri di café selama satu jam seperti yang dikatakan Andre, artinya aku harus datang setidaknya setengah jam lebih awal dari yang kemarin. dan benar saja, baru aku memesan secangkir kopi wanita itu terihat memasuki café dan menuju tempat duduknya yang biasa. Kali ini rambutnya dibuat kuncir kuda, dengan pakaian dan riasan seperti wanita modern pada umumnya dia terlihat seperti wanita biasa. Namun kemudian, saat ia mulai menatap ke luar jendela café, ia berubah seperti wanita kesepian yang rapuh, dan pandangan matany benar-benar mengartikan semua itu.
Apa yang ia sedihkan ? apa yang menjadi beban dalam hatinya ?
“mas, kopinya”
Tono, pelayan café mengejutkanku dengan kepulan kopi pesananku
“Mas, naksir mbak Rike ya, kok dari tadi ngeliatin terus ?” Tono tersenyum simpul
“Apaan sih kamu ini Ton” kataku, tapi, tunggu dulu …
“Mmm, siapa tadi Ton, namanya ?”
“Siapa ? Oh, mbk Rike? Yang duduk diseberang meja itu kan mas ? yang hobinya ngeliatin jalanan ?”
“Kamu ko bisa tau namanya ?”
“Ya iya mas, dia pernah ninggalin dompetnya disini, saya yang menemukannya, pas saya liat dompetnya kan ada KTPnya, jadi saya kembalikan lagi pas besoknya mbak Rike dating” jelas Tono
Aku manggut-manggut, Rike ya ….
Datang ke café setiap hari, dijam yang sama, tempat duduk yang sama, pesanan yang sama, dan kemudian hanya diam memandang ke jalanana luar, wanita yang aneh, pikirku. Namun kemudian aku merasa geli sendiri, bukankah yang lebih aneh malah aku sendiri ? Untuk apa aku merasa begitu penasaran dengan wanita itu, bahkan rela untuk duduk dicafe ini selama lebih 1 jam hanya untuk memperhatikannya ??
“Kamu lagi cari pelarian tuh” Andre menyimpulkan dengan sadis saat minggu kemarin dia tau bahwa aku mengambil cuti panjang, tepat setelah putus dari Nia.
“Pelarian ? aku bukan anak labil yang lari kesana kemari karena kehilangan mainannya !” ketusku
“Hushh !! berarti Nia mainan gtu ??”
Aku diam, bukan, Nia bukan mainan, tapi aku yang malah jadi mainannya. Tpi tidak mungkin aku mengatakan itu pada Andre, setidaknya aku masih punya harga diri sebagai laki-laki yang diduakan oleh kekasihnya.
Aku terluka, itu pasti, karena 4 tahun yang kujalani bahkan dengan mimpi-mimpi untuk berakhir disaat indah dengan Nia  hancur berantakan begitu saja. Aku merukui diriku sendiri karena kebodohanku. Tapi aku bukan seorang yang putus asa. Rasa sakit hati ini memang begitu dalam tapi kewarasnku pun masih kuat. Aku belajar untuk merelakan, lagipula aku punya prinsip untuk tidak akan memaksakan jika memang aku tidak berhak untuk memiliki, dan menurut logikaku, Nia bukanlah hal yang patut kupaksakan untuk dapat kumiliki.
Satu jam berlalu, rupanya aku mulai tertular oleh keanehan wanita itu, duduk diam dengan pandangan ke satu arah, sedangkan pikiranku melayang-layang ke masa silam. Aku menghela nafas panjang. Kemudian  terlihat wanita itu berdiri, dan meninggalkan café sama seperti kemarin.


Hari ini kembali aku memperhatikan sosok wanita itu. Sudah satu jam berlalu, dan ia sama sekali tidak mengubah posisi duduknya. Yang lagi-lagi membuatku bertanya, kenangan apa didalam pikiranhya itu, yang mampu membuat ia menutup telinga dan matanya dari pandangan orang di dunia nyata ini ?
Tiba-tiba sesosok pria muncul menghampirinya. Duduk didepan wanita itu dan mengusik lamunannya. Terlihat wanita itu terkejut dengan kedatangan pria itu, dan kemudian keterkejutan itu berubah menjadi amarah dimatanya.
Dan sesaat kemudian keributan kecil terjadi. Pria itu terlihat seperti memaksa wanita itu untuk ikut dengannya, tapi jelas wanita itu menolak. Dan terjadilah adegan tarik menarik seperti layaknya sinetron drama keluarga. Para tamu yang ada dicafe itu mulai memperhatikan mereka, merasa ada tontonan kecil yang menarik. Aku sendiri sebenarnya ingin melerai adegan itu, minimal sebagai sahabat dari Andre yang notabene pemilik café ini, aku tidak ingin ada keributan terjadi, dan juga karena merasa kasihan dengan wanita itu.
Namun sebelum aku sempat bangkit dari tempat dudukku, muncullah seorang ibu-ibu setengah baya, bersama dengan seorang gadis muda yang rupannya mirip dengan wanita itu, menghampiri mereke berdua. Dan entah kenapa ketika ibu-ibu itu muncul, wanita itu menjadi luruh, ia lunglai dipelukan ibu itu sambil menangis, dan ibu itu menenangkannya dengan penuh kasih. Perlahan ia membawa wanita itu pergi dari café, bersama dengan pria tadi dan gadis muda.
Aku kembali hanya mampu melihat adegan itu, aku terus memperhatikan mereka hingga mereka lewat dibalik kaca café, tempat aku duduk, dan untuk pertama kalinya pandanganku beradu dengan wanita itu. Layaknya gerakan slow motion, aku melihat ke dalam matanya yang penuh linangan air mata, dan tatapannya itu …


Namanya Rike Dewayani, umur 25 tahun, dan bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan swasta di kota ini. Tapi itu dulu sebelum dia dengan tiba-tiba mengajukan surat pengunduran diri 2 bulan yang lalu dan lebih memilih sebagai seorang pelamun disebuah café .
“Kak Rike adalah orang yang ceria, dia tipe yang aktif dan tidak bisa diam, dan dia oang yang sangat mencintai alam, sama seperti almarhum kak Wira, calon suaminya …”
Ria, gadis muda yang tadi datang bersam ibu-ibu, yang kemudian kuketahui adalah ibu dari Rike,  datang kembali ke café untuk meminta maaf akan keributan yang terjadi tadi. Namun karena andre sang pemilik café tidak ada ditempat, akupun memberanikan diri untuk mewakilinya, dan berbicara dengan gadis muda ini, dan juga sebenarnya aku ingin bertanya banyak hal tentang wanita, ah, Rike maksudku, pada adiknya ini.
“Calon suaminya ?” tanyaku sedikit bingung
“Kak Wira meninggal saat pendakian bersama dengan kak Rike, mereka tersesat dan terpisah dari kelompok pendaki yang lain. Mereka berdua ditemukan oleh tim SAR 3 hari berikutnya, sepertinya mereka terperosok dalam jurang. Kak Rike dapat bertahan tapi saying kak Wira ….” Gadis itu tidak melanjutkannya, mungkin karena keharuan yang tiba-tiba muncul. Aku tertunduk,
“Dan karena peristiwa itu kak Rike menjadi shock” lanjut Ria, “Dia merasa ini semua salahnya, karena ia yang memaksa untuk melakukan pendakian itu tepat seminggu sebelum hari pernikahan mereka, apalagi ketika mereka ditemukan, tangan kak Wira menggenggam erat tangan kak Rike yang pingsan, seolah ia ingin sekali melindungi kak Rike”
“Lalu, apa yang sebenarnya ia lakukan di café ini setiap harinya?”
Ria menghela nafasnya, “Café ini adalah tempat pertama kali mereka bertemu, disini banyak kenangan yang tercipta diantara mereka, aku yakin kak Rike kemari untuk mengenang semua itu … “
“Kasihan, sebegitu dalamnya kesedihannya, mungkin sebaiknya kalian biarakan saja untuk sementara ia datang ke café ini, mungkin dengan begitu kesedihannya sedikit demi sedikit terobati …”
Ria menatapku dengan pandangan yang aneh,
“Maaf mas, tapi tidak mungkin kami membiarkan begitu saja mbak Rike berjalan-jalan dengan bebas untuk saat ini … “
“Kenapa tidak ?”
Ria seperti bingung untuk menjawab pertanyaanku,
“Karena .. karena mbak rike harus menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa, ia benar-benar mengalami depresi berat, bahkan beberapa kali pernah mencoba untuk mebunuh dirinya, jadi, bagaiamana mungkin kami membiarkan dia pergi ke luar begitu saja ?”
Entah aku harus berkomentar apa, jadi  … Rike saat ini sedang … ??
Aku benar-benar merasa kasihan, dia begitu mencintai kekasihnya hingga tidak mampu mempertahankan kewarasannya, luka hatinya benar-benar parah.
Dan kemudian aku ingat lagi pandangannya saat terakhir kami bertemu. Pandangan itu pernah aku miliki beberapa hari yang lalu, pandangan penuh luka, pandangan yang berhasil aku sembunyikan, aku tekan hingga menghilang tanpa orang lain ketahui, tapi rupanya Rike begitu rapuh, hingga harus mengalah dan membiarkan pandangan luka itu menguasai jiwa dan raganya …..







»»  LANJUT LAGI...

Sunday, June 21, 2015

#NULISRANDOM2015 Day 21 "Cuma Sekedar Opini"

Hari ini saya mau ngebahas soal update berita artis yang lagi hangat di medsos. Saya tau berita ini juga gak sengaja karena scroll timeline twitter, tentang Lukman Sardi yang berpindah agama.

Saya awalnya sempat mikir memang agama Lukman Sardi apa ? Hehehe. walaupun saya termasuk yang suka aktingnya di beberapa film tapi tidak membuat saya untuk kepo tentang Lukman Sardi. Yang saya tahu hanya fakta umumnya saja bahwa dia adalah anak dari Idris Sardi, pemain biola kenamaan Indonesia. Tapi mengingat Idris Sardi adalah seorang muslim maka sewajarnya Lukman Sardi seorang muslim juga kan ?

Akhirnya karena saya penasaran saya mulai browsing tentang berita yang lagi hot-hotnya itu. ternyata Lukman Sardi memang berpindah keyakinan dari Islam ke Kristen.

Kenapa ?

Itu pertanyaan yang pertama kali terlintas dikepala saya. Apalagi mengingat beberapa peran yang dimainkan oleh Lukman adalah karakter yang religius semacam ustadz. Seperti ketika dia memerankan tokoh KH Ahmad Dahlan di film Sang Pencerah. Saya memang gak pernah nonton film itu, namun beberapa  orang mengatakan akting Lukman Sardi di film besutan Hanung Bramantyo itu sangat bagus, penjiwaan terhadap karakter dari pendiri  Muhammadiyah itu dirasa sangat masuk.

Kembali ke soal pindah agamanya Lukman Sardi. Dari beberapa berita yang saya baca ternyata beliau sudah berpindah agama sejak 6 tahun yang lalu, tapi video yang menampilkan tentang pengakuan Lukman Sardi yang berpindah agama memang baru-baru saja diupload. Video itulah yang kemudian menimbulkan heboh, geger, dan komentar pro-kontra dari berbagai pihak.

Ketika suatu masalah itu bersinggungan dengan agama/keyakinan, pasti akan ada yang bersuara nyinyir dan juga bersuara bijak. Medsos yang membuka ruang untuk setiap orang berpendapat bebas dari yang sopan hingga yang kurang ajar bisa aja memacing isu SARA yang memang jadi momok buat bangsa Indonesia yang memiliki keanekaragaman. Terlebih objeknya ini adalah seorang artis, yang dengan mudah kehidupannya dilihat oleh masyarakat.

Ada yang kecewa, ada yang memberi selamat dan ada yang biasa aja para netizen menanggapi berita perpindahan agama Lukman Sardi ini. Wajar kalau perilaku seorang artis bisa menimbulkan beberapa reaksi dari masyarakat. Ketika seorang Lukman Sardi berpindah keyakinan dari Islam ke Kristen, tentu sebagai seorang muslim saya mempertanyakan alasannya. Namun gak ada kewajiban sih buat Lukman Sardi menjelaskan alasannya pada saya, lagian saya mah apa atuh, cuma salah seorang penikmat karyanya aja :)

Dari berita yang saya baca Lukman Sardi memang memiliki istri yang non-islam, tapi Lukman Sardi menegaskan bahwa berpindah agamanya bukan karena pengaruh sang istri. Dia berkata bahwa istrinya sudah lama menyerah untuk membuat Lukman Sardi berpindah keyakinan karena dia bukan tipe orang yang bisa dengan mudah dipengaruhi, tapi ia berpindah keyakinan karena memang dia merasa itu adalah panggilan tuhan yang dia percayai. Diapun bukan tidak melalu pergumulan batin  untuk memutuskan berpindah agama, terlebih keluarga, terutama sang ayah, juga menentang keputusan Lukman Sardi. Namun karena beliau benar-benar merasa mantap dengan keyakinan barunya, akhirnya sekitar 6 tahun yang lalu Lukman Sardi memutuskan untuk menjadi seorang kristiani.

Beragam komentar dan pendapat pun berkembang. Dan seperti biasanya ketika masalah sudah menyinggung agama maka komentar berbau SARA pun ikut bermunculan. Ini yang bikin saya khawatir plus muak, karena sepertinya ada aja yang jadi provokator dan bersikap konyol. Dan yang bikin miris lagi yang bersikap konyol adalah dari temen-temen yang mengaku muslim sendiri.

Kecewa karena kehilangan saudara semuslim memang wajar tapi gak lantas membuat kita merasa benar untuk menghujat dan mencelanya, bahkan berkata kotor atau menyumpah serapah.  Termasuk juga untuk tidak men-judge apapun pada keputusan Lukman Sardi. Memeluk agama apapun itu hak beliau yang dilindungi oleh negara. 

Saya hanya beropini dari sudut pandang saya sendri loh ya. Tulisan ini bisa dianggap sebagai suara pikiran saya untuk teman-teman sesama muslim dalam menyikapi hal-hal seperti ini.

Bahwa Lukman Sardi adalah seorang yang dewasa dan pintar. Kepindahan agama itu bukan hal yang sepele loh, dan saya yakin Lukman Sardi pun sudah berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan itu. dan menurut saya, kita sebagai orang luar yang tidak tau bagaimana kehidupan Lukman Sardi dan pengalaman hidup yang dialami beliau, tidaklah pantas untuk kemudian mencela atau menghujatnya.

Memangnya kenapa sih kalau ada seorang muslim yang berpindah keyakinan ?

Takut berkurang pemeluk agamanya ? Menjadi ragu dengan islam karena ada seseorang yang meninggalkannya ?

Saya lupa komentar dari ulama mana, tapi beliau berkata bahwa hujatan ataupun celaan kepada orang yang berpindah keyakinan menunjukkan kalau kita belum dewasa dalam beragama, dan kalau saya tambahkan juga menunjukkan kalau kita belum paham dalam beragama. Bukan berarti saya adalah orang yang paham, saya pun juga masih belajar, tapi yang saya tahu pasti adalah bahwa dalam Islam tidak ada pemaksaan dalam memeluk agama Islam itu sendri. Mau percaya dengan Islam ya ayok kita jalani, tidak yakin dengan ajaran Islam ya monggo untuk meninggalkannya.

Islam itu sendiri kan sebagai salah satu jalan dari beberapa pilihan jalan hidup di dunia ini, dan manusia diberi akal pikiran untuk menentukan pilihannya. Tapi sebagaimana hukum dalam dunia ini bahwa setiap pilihan pastilah punya konsekuensinya. Dan saya yakin Lukman Sardi pun paham akan hal itu.

Jadi menurut saya ya udahlah, dia yang berpindah agama dan dia yang tidak yakin dengan Islam, bukanlah urusan kita. Yang udah pergi ya ikhlaskan.  Lebih baik kita menyibukkan diri memperdalam ilmu agama kita biar tidak kekanak-kanakan dalam menyikapi masalah yang mengangkut keyakinan ini, dan juga tidak dengan mudah terprovokasi ataupun menjadi provokator.

Dan rasanya dalam Islam sendiri  juga tidak mematok harus berapa ratus juta pemeluknya kan ? Karena  menurut saya bukan itu inti dari sebuah agama atau keyakinan. Menurut saya pribadi sih yang membuat sebuah agama mulia itu bukanlah dari besar jumlah pengikutnya, tapi dari kebenaran, baik yang bersifat dunia ataupun akhirat, yang diajarkannya.

Sekali lagi tulisan ini hanya semacam curcol saya sekaligus sebagai latihan menulis dalam challenge #NULISRANDOM2015. So, just read with a calm mind :)




»»  LANJUT LAGI...

Friday, June 19, 2015

#NULISRANDOM2015 Day 19 "Sekedar Nulis"

Buka laptop, buka ms word, kemudian bengong. Buntu mau nulis apaan. Padahal kan niatnya tetep harus nulis selama satu bulan ini buat ikutan challenge nulis random 2015. Tapi ya gitu, mau nulis apa itu gak ngerti. Gak ada tema dan ide yang terlintas. Mau nulis cerita tapi baru beberapa paragraph udah buntu ceritanya. Mau nulis puisi perasaan lagi gak mood. Mau nulis essay atau sejenisnya gak ada tema yang lagi menarik hati untuk dibahas. Bingung kan ??

Saya heran sama para penulis itu, mereka kok seperti gak kehabisan ide ya ? Bahkan walaupun lagi buntu mereka tuh kok kayaknya gampang banget buat menemukan mood mereka kembali. Writer block ?? Rasanya bahasa itu kerennya cuma ditujukan buat para penulis yang udah punya karya, kalau buat saya keadaan gak bisa nulis ini lebih pantes disebut pemales atau emang gak bakat nulis.

Mau jadi penulis tapi malesnya masih sering diturutin. Tapi bingung juga kalau dipaksa nulis tuh mau nulis apaan ??!!!

Bisa berjam-jam natap layar putihnya ms word kalau gak ada ide gini. Dan ujung-ujungnya malah jadi ngantuk sendiri, matiin laptop langsung berselimut, pergi ke dunia mimpi.

Saya pingin banget nanya sama penulis hebat diluar sana, mereka pernah kayak gini gak ? Gimana sih biar bisa memotivasi diri buat semangat nulis, gak peduli lagi gak mood atau gak ada ide ?

Ada seorang penulis yang bilang, kalau kamu punya keinginan menulis tapi ternyata masih banyak hal-hal yang mengalihkan dan membuat kamu males nulis maka bisa jadi menjadi seorang penulis bukanlah cita-cita atau keinginan terbesar dalam hidupmu.


Bener ya ??
»»  LANJUT LAGI...